Ruang Operasi Rumah Sakit

 

Begitu pintu ruang operasi kubuka, udara sejuk yang berasal dari alat pendingin ruangan menderu bising, diikuti bau obat-obatan yang menyesakkan. Ruangan ini tidak terlalu luas, hanya lima kali lima meter persegi. Dengan ventilasi udara yang bahkan tersumbat debu karena sudah lama tidak dibersihkan. Dindingnya yang sudah lama tidak di cat mengeluarkan bau apak. Ruangan yang memiliki banyak barang medis ini mengingatkanku akan masa kecilku yang dirawat di puskemas dekat rumah dulu.

            Di kanan dari pintu terdapat kamar mandi yang pintunya berwarna biru muda, lantai kamar mandinya terlihat kotor karena lumut.Namun, terdapat ventilasi udara di kamar mandi itu yang berfungsi untuk mengeluarkan bau yang tidak sedap dari kamar mandi.

            Ketika kupandangkan mataku kedepan, aku melihat dokter dan beberapa suster yang sedang menangani seorang pasien, pasien itu tidur di kasur rumah sakit tersambung dengan banyak kabel. Hampir tenggelam karena banyaknya kabel yang tersambung ke badannya yang kurus kering. Begitu aku melihat botol obat-obatan yang ada dalam lemari besi berwarna abu abu, segera aku tahu asal bau obat-obatan yang menyengat itu. Rupanya obat yang cair itu memiliki bau yang kuat sehingga ventilasi udara saja tidak dapat dengan mudah menghilangkannya.

            Di langit-langit terdapat lampu bohlam dan terdapat lampu operasi di atas Kasur rumah sakit untuk menerangi para tenaga medis yang bekerja menangani pasien. Ruangan yang tidak terlalu luas dan berlangit-langit rendah itu saja tidak dapat diterangi oleh lampu bohlam tersebut, hanya lampu operasi yang terlihat bersinar menerangi pasien dari ujung ruangan.

            Di dinding terdapat papan yang menunjukkan tanggal kunjungan dokter yang sudah seharusnya diganti dengan yang baru karena tulisannya yang pasti dulunya masih berwarna pekat itu mulai pudar. Para dokter hanya menimpanya dengan spidol hitam yang membuat papan tersebut terlihat semakin termakan usia.

            Di seberang kasur pasien terdapat sofa panjang yang biasa aku temukan di rumah nenek kakek. Sofa itu pasti dulunya berwarna krem cantik tapi sekarang sudah mulai pudar dan terlihat sudah di duduki banyak orang, dari busa sofa yang sudah masuk terlalu menjorok kedalam kerangka kayunya. Di atas sofa itu berserakan alat alat medis dan barang barang milik dokter dan suster.

            Di kiriku terdapat lemari berwarna bitu tua yang berisikan berkas berkas dari pasien pasien yang dulu pernah dirawat di rumah sakit ini. Di pintunya terdapat kertas dengan tulisan tinta merah “Berkas Bersifat Rahasia”. Yang menurutku hanya menambah sesak dan menunjukkan bahwa minim tempat di rumah sakit ini. Seharusnya mereka merenovasi atau menambah beberapa ruangan baru untuk menaruh barang barang ditempat yang baik, sehingga ruang operasi ini tidak terlihat seperti gudang.

            Bau obat semakin menyesakkan datang dari lemari besi abu abu tadi, ketika aku mengambil tas di dekat lemari besi itu, dan aku memandang pasien yang sedang dirawat, rambutnya yang memutih, kulitnya yang berwarna kuning langsat dengan bercak-bercak coklat, keriput tangannya sedikit terlihat seram di ruangan yang temaram itu. Cepat-cepat aku keluar dan menutup pintu. Lega rasanya bisa keluar dari ruangan itu meninggalkan bau obat yang menyengat dan melihat kondisi pasien yang menyedihkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wawasan Kebahasaindonesian